Sopan santun sesungguhnya adalah suatu tata tingkah laku yang amat populis. Semua orang tahu, memiliki pengalaman mengenainya, dan menyukainya. Mungkin, memang perlu menjadi ahli filsafat etika dulu untuk menjelaskan sopan santun sebagai sebuah konsep nilai. Tetapi, bukankah dipahami atau tidaknya sebuah nilai tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang bisa menerangkan nilai itu sampai mulutnya berbusa-busa?

Biarpun mungkin hanya sedikit orang yang bisa menjabarkan sopan santun itu apa, tetapi hampir semua orang memahami cara berlaku sopan dan santun, atau paling tidak, bagaimana positifnya perasaan yang timbul ketika seseorang diperlakukan dengan sopan lagi santun.
Sopan santun bukan sebuah ideologi, yang memerlukan konseptualisasi, pembahasaan atau bahkan pemaksaan untuk bisa ditegakkan. Begitu seseorang sadar bahwa ada orang lain di sampingnya, tentu ia akan mulai membangun interaksi dengan orang lain itu seperti dia ingin diperlakukan oleh orang lain tersebut. Ia adalah nilai alamiah yang dibutuhkan setiap orang untuk dapat hidup berdampingan secara nyaman dan tenteram.

Karena sopan santun juga merupakan nilai yang natural, ia bukan nilai yang mesti dijabarkan panjang-lebar di buku-buku dan didiskusikan di seminar-seminar tingkat tinggi. Ia bagian dari situasi keseharian. Ketinggian nilainya terangkum dalam hal-hal kecil, seperti suara merendah yang disampaikan seorang anak kepada orang tuanya.

Kondisi yang diciptakan oleh sopan santun dalam arti luas ini, tentu adalah ketenteraman. Konflik pun diselesaikan dengan dialog dan keterbukaan.